Posted by: setang | August 18, 2008

Meninggalkan Hawa Nafsu Menuju Tuhan

Abu Imran al-Wasithi, salah seorang sufi besar pada abad XII H., bercerita: Pada suatu hari aku berada pada sebuah kapal di lautan. Tanpa diduga, kapal itu bocor. Tinggallah aku dengan istriku yang sedang hamil. Tiba-tiba ia melahirkan anak. Ia menginginkan air. Aku angkat kepalaku ke langit memohon kepada Allah agar diberi air minum untuk istriku. Lalu aku lihat kelangit ada seorang lelaki yang duduk diatas udara. Pada tangannya ada cawan air yang kemerah-merahan seperti disepuh emas. Ia berkata, ”Ambillah cawan air ini.” Aku keheranan. Bagaimana mungkin ia bisa berada diatas awan. (Dalam bahasa Arab, awan disebut hawa. Dan hawa mempuyai arti yang lain, yaitu hawa nafsu). Aku bertanya kepadanya, ”Bagaimana kau bisa berada diatas hawa?” Ia memjawab, ”Taraktu hawâya fa ajlasanî fil hawâ. Aku sudah meninggalkan hawa nafsuku; karena itu, Tuhan memberiku kedudukan diatas hawa.”

Seperti biasa, kisah-kisah sufi tidak bisa dicerna begitu saja. Kita harus merenung agak dalam. Dalam perjalanan seorang sufi, dalam rangka mendekati Allah SWT, tidak ada penghalang yang paling besar yang menutupi jalan menuju Tuhan. Selain hawa nafsu.

Hawa nafsu artinya keinginan-keinginan diri. Nafsu diterjemahkan sebagai egoisme: kecendurangan kita untuk mencapai keinginan-keinginan diri. Keinginan untuk mencapai kenikmatan sensual, kesenangan jasmaniah, keinginan untuk makan dan minum, bersenang-senang, keinginan untuk diperhatikan, diistimewakan dan dianggap sebagi orang yang paling penting, yang biasanya lazim kita sebut sebagai kepongahan atau arogansi itu, semuanya termasuk ke dalam hawa nafsu. Tuhan tidak bisa didekati apabila hawa nafsu kita masih berdiri sebagai gunung yang tegak. Seorang sufi hanya bisa mendekati Allah SWT dengan menaklukkan hawa nafsu atau egoismenya itu.

Ketika Al-Qur’an al-Karim bercerita tentang orang-orang yang meninggalkan rumahnya untuk berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, para sufi menyatakan bahwa yang dimaksud dengan rumah itu adalah hawa nafsunya.

Para sufi menjelaskan tentang hawa nafsu dengan menerangkan struktur kepribadian kita. Dalam diri kita selalu menemukan beberapa kekuatan yang mendorong kita untuk melakukan sesuatu. Psikologi barat menyebutnya sebagai drive atau motive. Para sufi menyebutnya sebagai kekuatan-kekuatan hawa nafsu.

Paling tidak ada tiga kekuatan hawa nafsu didalam diri kita. Pertama, disebut sebagai Quwwatun Bahimiyyah atau kekuatan kebinatangan. Terkandung unsur-unsur kebinatangan. Unsur inilah yang mendorong kita untuk mencari kepuasan lahiriah atau kenikmatan sensual. Kekuatan yang kedua, Disebut oleh para sufi sebagai Quwwatun Sab’iyyah atau kekuatan binatang buas. Jauh dalam diri kita, kita memiliki kekuatan binatang buas. Kita senang menyerang orang lain, memakan hak orang lain, membenci, menyerang, menghancurkan, atau mendengki orang lain. Kita seperti tokoh dalam cerita Dr. Jekyll and Mr Hyde. Dalam diri kita ada satu kekuatan jahat untuk menyerang orang lain.

Kita juga mempunyai satu kekuatan lain dalam diri kita yang disebut para sufi sebagai Quwwatun Syaithaniyyah. Inilah kekuatan yang mendorong kita untuk membenarkan segala kejahatan yang kita lakukan. Kalau kita mengambil hak orang lain, setan membisikkan dalam hati kita agar kita tidak usaha merasa bersalah sebab kita mengambil hak orang lain untuk dipergunakan membantu saudara-saudara kita. Kita boleh jadi korupsi sejumlah satu milyar rupiah: kemudian kita redakan perasaan bersalah kita dengan memberikan infak satujuta rupiah. Setan akan berkata bahwa perbuatan korupsi yang kita lakukan tidak lain adalah utuk membantu kepentingan orang lain juga. Ketiga kekuatan ini berasal dari hawa nafsu.

Namun, Tuhan juga menyimpan dalam diri kita, sebagai satu bagian penting dari kepribadian kita, satu kekuatan yang berasal dari percikan cahaya Tuhan. Inilah yang dinamakan dengan Quwwatun Rabbaniyyah, kekuatan Tuhan, Kekuatan ini terletak pada akal sehat kita. Apabila keinginan untuk mengejar hawa nafsu itu yang menguasai diri kita, maka kita sebenarnya adalah binatang-binatang secara ruhaniah. Walaupun secara jasmaniah, kita menampakkan penampilan yang seperti manusia.

Apabila kita senang memelihara dendam, perasaan iri hati, kejengkelan, dan kemarahan dalam hati kita, kita dalah serigala-serigala yang buas. Apabila dalam diri kita, yang berkuasa adalah kepandaian mencari dalih dan alasan untuk membenarkan kekeliruan-kekeliruan, secara hakikat kita sebetulnya adalah setan yang mempunyai penampilan sebagai manusia, Sebaliknya bila akal yang menundukkan ketiga-tiganya, kita akan dibimbing akal untuk menempuh perjalanan ruhani menempuh keridhaan Allah SWT. Tugas akal adalah mengendalikan seluruh hawa nasfsu itu, Dengan cara itulah kita akan mendekati Allah SWT.

Tulisan ini diakhiri dengan sebuah cerita :
Ada seorang yang amat kehausan, ia berada disebuah puncak benteng yang amat tinggi, Dibawah benteng itu mengalir sungai yang jernih. Ia sangat ingin memperoleh air itu, tetapi benteng itu menghalanginya sampai ketempat air mengalir. Kemudian dengan tenaga yang tersisa ia menjatuhkan batu bata dari benteng itu satu per satu. Batu yang jatuh kedalam sungai menimpulkan suara gemericik air, entah bagaimana, orang yang kehausan itu mendengar suara gemericik air sebagai sesuatu yang amat indah. Lebih indah dari kabar gembira yang disampai kepada seorang napi yagn akan dibebaskan. Lebih indah dari kabar yang disampaikan kepada orang-orang yang menunggu berita sekian lama. Makin indah mendengar suara gemericik air itu, makin sering dia menjatuhkan batu bata. Akhirnya, dari sungai yang dibawah berkata ” hai manusia, mangapa engkau jatuhkan batu bata itu? Orang haus menjawab : aku menjatuhkan batu bata itu karena dua kepentingan. Pertama, karena aku menikmati suara gemericik air yang ditimpa batu bata: dan Kedua, karena dengan meruntuhkan batu bata itu, makin lama aku makin dekat dengan pusat air itu.”

Dengan itu, sebetulnya Rumi ingin mengajarkan kepada kita bahwa air mencerminkan kesucian Allah SWT. Dan oang hanya bisa merindukan Allah SWT dengan merobohkan hawa nafsunya satu demi satu. Makin sering ia meruntuhkan hawa nafsunya, makin nampak kepadanya keindahan Allah, makin besar kerinduan kepada-Nya, dan makin dekat dia di sisi-Nya.

Marilah kita berusaha menaklukan hawa nafsu kita dan meletakkan akal sehat diatas ketiga kekuatan yang berasal dari hawa nafsu itu. Hanya dengan itu, kita akan berlayar menuju Allah SWT, menghampiri-Nya, dan melepaskan kerinduan kita kepada-Nya.

Sumber: Meraih Cinta Ilahi: Pencerahan Sufistik – Jalaluddin Rakhmat.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: